Kenangan indah bersama orang yang kita cintai nggak akan pernah hilang, meskipun sesibuk apapun dan sejauh apaun, terlebih lagi kepada Ibu, Bunda, Si Mbok atau maee sekalipun, kasih sayangnya akan tetap terasa meskipun jauh darinya, tatapan lembut dan penuh dengan cinta selalu menyapa dan membuatku selalu semangat untuk meraih apa yang telah aku impikan.
Umi adalah panggilan yang aku pilih dan telah diajarkan olehnya dari aku belum bisa berbicara hingga sekarang ini, kata ini terasa lebih nikmat di lidahku dibanding sebutan ibu, bunda si mbok atau sebutan ibu lainnya, keindahaan itu terasa entah sudah berapa lama, dan aku merasa sebuta itu lebih tentram dan menghilangkan kesedihanku, sejak aku baru bisa berkata kata inilah. Umi, kata ini disadur dari bahasa arab yang berarti ibuku.
Seperti ibu-ibu lainya, umi adalah wanita pejuang tanpa tanding, tahan akan cobaan dan suka dengan tantangan hidup, aku yang masih kecil selalu diajarakan tentang arti hidup yang sesungguhnya, untuk lebih melihat hidup dari sisi lain yang jauh dari dunia kanak-kanakku saat itu, apa yang diajarkanya selalu aku ingat dan tertanam dengan subur di hatiku, nasehat-nasehatnya selalu mengiriku hingga kini, alur cerita hidupku bersamanya selalu menjadi catatan dan hikmah serta pengalaman tersendiri untuk bekalku menatap masa depan.
Umi berasal dari Minangkabau dengan suku Melayu, akan tetapi kehidupannya lebih banyak dihiasi corak budaya Jakarta karena dia dilahirkan di Jakarta, sudah menjadi adat Minangkabau Merantau merupakan jalan menuju sukses, Uwo, ibu umi telah lama meninggalkan tanah lintau batusangkar sejak tahun 1950-an menjemput datuk yang telah lebih dahulu merantau ke Jakarta, sudah menjadi kewajiban kaum lelaki minangkabau untuk mencari pengalaman hidupnya di negeri lain untuk kemajuan dan pengalaman di masa datang dan bahkan kebanyakan dari yang merantau meraih kesuksesan namun entah kenapa kebanyakan dari mereka enggan kembali lagi ke ranah kelahiran, dan tak jarang juga mereka enggan kembali dikarenakan kegagalan mereka ditanah rantau, namun aku tetap belum mengetahui alasan yang tepat untuk hal ini karena tiap orang memiliki alasan berbeda-beda jika ditanya pertanyan mengapa tidak kembali ke kampung halaman ?
Orang Minang memang tahan uji, tantangan bukanlah menjadi masalah baginya, namun dengan adanya masalah menjadi semakin banyak cara untuk mengapai sukses, begitu juga kehidupan umi waktu masih kecil, himpitan ekonomi dan kerasnya persaingan ibukota tidak membuat datuk, ayah umi putus asa bahkan iapun berani menanggung biaya sekolah kemenakanya sekaligus waluapun hanya mengandalkan untung dari jual-beli pakaian di pasar genjing Senen.
Umi adalah panggilan yang aku pilih dan telah diajarkan olehnya dari aku belum bisa berbicara hingga sekarang ini, kata ini terasa lebih nikmat di lidahku dibanding sebutan ibu, bunda si mbok atau sebutan ibu lainnya, keindahaan itu terasa entah sudah berapa lama, dan aku merasa sebuta itu lebih tentram dan menghilangkan kesedihanku, sejak aku baru bisa berkata kata inilah. Umi, kata ini disadur dari bahasa arab yang berarti ibuku.
Seperti ibu-ibu lainya, umi adalah wanita pejuang tanpa tanding, tahan akan cobaan dan suka dengan tantangan hidup, aku yang masih kecil selalu diajarakan tentang arti hidup yang sesungguhnya, untuk lebih melihat hidup dari sisi lain yang jauh dari dunia kanak-kanakku saat itu, apa yang diajarkanya selalu aku ingat dan tertanam dengan subur di hatiku, nasehat-nasehatnya selalu mengiriku hingga kini, alur cerita hidupku bersamanya selalu menjadi catatan dan hikmah serta pengalaman tersendiri untuk bekalku menatap masa depan.
Umi berasal dari Minangkabau dengan suku Melayu, akan tetapi kehidupannya lebih banyak dihiasi corak budaya Jakarta karena dia dilahirkan di Jakarta, sudah menjadi adat Minangkabau Merantau merupakan jalan menuju sukses, Uwo, ibu umi telah lama meninggalkan tanah lintau batusangkar sejak tahun 1950-an menjemput datuk yang telah lebih dahulu merantau ke Jakarta, sudah menjadi kewajiban kaum lelaki minangkabau untuk mencari pengalaman hidupnya di negeri lain untuk kemajuan dan pengalaman di masa datang dan bahkan kebanyakan dari yang merantau meraih kesuksesan namun entah kenapa kebanyakan dari mereka enggan kembali lagi ke ranah kelahiran, dan tak jarang juga mereka enggan kembali dikarenakan kegagalan mereka ditanah rantau, namun aku tetap belum mengetahui alasan yang tepat untuk hal ini karena tiap orang memiliki alasan berbeda-beda jika ditanya pertanyan mengapa tidak kembali ke kampung halaman ?
Orang Minang memang tahan uji, tantangan bukanlah menjadi masalah baginya, namun dengan adanya masalah menjadi semakin banyak cara untuk mengapai sukses, begitu juga kehidupan umi waktu masih kecil, himpitan ekonomi dan kerasnya persaingan ibukota tidak membuat datuk, ayah umi putus asa bahkan iapun berani menanggung biaya sekolah kemenakanya sekaligus waluapun hanya mengandalkan untung dari jual-beli pakaian di pasar genjing Senen.
